hanya ingin berbagi ilmu..agar kita lebih dekat dengan Dzat Yang Maha Perkasa melalui mushaf suciNya.. semoga bermanfa'at ! aamiin :)
Tampilkan postingan dengan label motivasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label motivasi. Tampilkan semua postingan


Pernahkah kalian sakit? Tentu saja pernah karena kita memang manusia biasa yang lemah. Nah, ketika kita sakit tentunya kita sangat mengharapakan untuk sembuh,  betul? Kemudian ikhtiar kita yakni dengan membeli obat. Setelah membeli obat apakah kita membiarkan obat itu? Tentu saja tidak. Setelah itu pasti kita membaca petunjuk pemakaiannya dengan sungguh Karena kesalahan membaca berakibat fatal. Setelah membaca petunjuknya, apakah kita tidak melaksanakan petunjuk itu? Tentu saja melaksanakannya. Dengan melaksankan sesuai petunjuk yang tertera dan melakukannya dengan rutin sampai penyakit kita sembuh.


Kawan… begitu juga dengan Al-quran.

Kita tentunya sering merasa lengah, kesal, sampai hampir patah semangat dalam hidup. Semua itu adalah penyakit hati dan obatnya adalah Al-quran. Lantas, apakah dengan memilki Al-quran saja penyakit itu akan sembuh? Tentu saja tidak, yang kita lakukan yakni membacanya dan menghayati maknanya, kemudian mengamalkan dalam kehidupan sehari-hari kita. Dan yang terpenting adalah melakukannya dengan penuh keikhlasan dan keistiqomahan. insyaAllah jika hal itu sudah kita sadari maka hidup kita akan jauh dari penyakit-penyakit hati sehingga hidup terasa tentram, damai dan indah kawan.. dan fungsi al-quran sebagai Asy-syifa’pun insyaAllah akan terasa...:)

Sejak diturunkan, Al-Qur’an senantiasa menjadi rujukan utama umat Islam dalam mengarungi bahtera kehidupan. Di hati mereka, Al-Qur’an adalah cahaya penerang jalan hidup menuju ridla Allah. Kenyataan ini dibuktikan oleh antusiasme umat Islam untuk menghafalnya. Atau, minimal membaca dan merenungi maknanya setiap saat.

Rasulullah saw selalu mengajak para sahabat untuk menghafal Al-Qur’an agar hati mereka tidak kosong dari ayat-ayat Al-Qur’an. Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas beliau bersabda, “Orang yang tidak mempunyai hafalan Al-Qur’an sedikit pun adalah seperti rumah kumuh yang mau runtuh.”
Perhatian yang tinggi terhadap keistimewaan menghafal Al-Qur’an ditunjukkan saat Rasulullah menetapkan laki-laki muda sebagai ketua rombongan karena hafal beberapa surat dan surat Al-Baqarah, kemudian salah seorang yang terhormat di antara mereka berkata, “Demi Allah aku tidak mempelajari dan menghafal surat Al-Baqarah karena aku takut tidak dapat menjalankan isinya.”
Mendengar komentar itu Rasulullah saw bersabda, “Pelajarilah Al-Qur’an dan bacalah. Sesungguhnya perumpamaan orang yang mempelajari Al-Qur’an dan membacanya adalah seperti tempat air penuh dengan minyak wangi misik, harumnya menyebar ke mana-mana. Dan barang siapa yang mempelajarinya kemudian ia tidur dan di dalam hatinya terdapat hafalan Al-Qur’an adalah seperti tempat air yang tertutup dan berisi minyak wangi misik.” (HR Tirmidzi)

Subhanallâh. Betapa kaya hati orang para penghafal Al-Qur’an. Betapa mulia mereka. Tubuh dan jiwa mereka senantiasa menebarkan bau surga bagi lingkungan sekitarnya. Pastilah bahwa mereka adalah orang-orang suci yang selalu dipelihara Allah. Pendek kata, penghafal Al-Qur’an senantiasa mendapatkan tempat terhormat di dunia maupun di akhirat kelak.
Hal itu selaras dengan sabda Rasulullah saw, “Penghafal Al-Qur’an akan datang pada hari kiamat, kemudian Al-Qur’an akan berkata, ‘Wahai Tuhanku pakaikanlah pakaian untuknya,’ Kemudian orang itu dipakaikan mahkota karomah (kehormatan) Al-Qur’an kembali meminta, ‘Wahai Tuhanku tambahkanlah,’ Lalu orang itu dipakaikan jubah karomah. Kemudian Al-Qur’an memohon lagi, ‘Wahai Tuhanku, ridailah dia,’ Allah swt pun meridlaiya. Dan diperintahkan kepada orang itu, ‘Bacalah dan teruslah naiki (derajat-derajat surga). Allah swt menambahkan dari setiap ayat yang dibacanya tambahan nikmat dan kebaikan.” (HR Baihaqi)

Balasan Allah di akhirat bukan hanya bagi penghafal Al-Qur’an, namun juga bagi kedua orang tuanya, dan ia dapat memberikan sinarnya itu kepadanya dengan berkah Al-Qur’an.
Dari Buraidah, Rasulullah saw bersabda, “Siapa yang membaca Al-Qur’an, mempelajarinya, dan mengamalkannya, maka dipakaikan mahkota dari cahaya pada hari kiamat. Cahanya seperti cahaya matahari dan kedua orang tuanya dipakaikan dua jubah (kemuliaan) yang tidak pernah didapatkan di dunia. Keduanya bertanya, ‘Mengapa kami dipakaikan jubah ini?’ Dijawab, ‘Karena kalian berdua memerintahkan anak kalian untuk mempelajari Al-Qur’an.” (HR Abu Daud)

Kedua orang tua itu mendapatkan kemuliaan karena mengarahkan anaknya untuk menghafal dan mempelajari Al-Qur’an sejak kecil. Mendidik anak agar mencintai Al-Qur’an berarti upaya mengantarkan mereka meraih gerbang kesuksesan hidup, baik di dunia maupun di akhirat.
Semoga ulasan ini dapat memotivasi kita untuk menjadi penjaga wahyuNya. Karena sejatinya semua manusia punya bakat untuk menghafal, tinggal bagaimana kita menjalankan amanah itu. Ketika kita dalam keadaan sakaratul maut pun berarti kala itu kita masih ada kesempatan untuk menghafal kalamNya yang suci itu.


Sumber: https://majalahqalam.wordpress.com/kolom/tausiyah/janji-allah-bagi-penghafal-qur%E2%80%99an/




Cinta adalah ungkapan lain untuk keindahan yang sempurna. Maka Al-Qur’an lah muaranya. Karena merupakan sumber segala cinta. Dekati Al-Qur’an cinta akan datang dengan sendirinya. Cinta tidak memerlukan definisi, karena-selain tidak mudah menentukan genus dan diferensia yang tepat- yang diperlukan oleh penghafal Al-Qur’an bukan definisinya, melainkan kekuatan dan keindahannya.



Jika seseorang sudah terkena virus cinta, tentu berbagai macam cara akan terus ditempuh, meskipun nyawa menjadi taruhannya. Rasa capek, sakit, lapar, getir tak dirasakannya lagi, karena dia begitu yakin akan manisnya hasil akhir perjuangan itu. Lalu, jika bisa nekat melakukan sesuatu yang dapat merenggut jiwanya demi orang yang kita cintai, kenapa kita tidak bisa melakukannya untuk Al-Qur’an, realitas dan puncak dari segala cinta?

 Rasa cinta terhadap Al-Qur’an bisa muncul kapanpun dan dimanapun. Terpesona terhadap sesuatu yang indah dan menyentuh hati adalah sebuah fitrah manusia. Kalau hati bisa terpesona melihat keindahan bunga-bunga yang bermekaran di musim semi dan tersentuh hatinya mendengarkan alunan musik alam yang syahdu, tentunya hati manusia akan lebih tersentuh oleh keindahan Al-Qur’an. Karena dia adalah firman Allah Yang Maha Agung, Maha Suci, Maha Indah dan Maha Besar. Al-Qur’an lebih indah dari semua itu. Seandainya Allah membiarkan mereka (alam semesta dan seisinya) mendengarkan Al-Qur’an sebagaimana terjadi pada kitab Zabur, niscaya alam akan berhenti beroperasi karena terkesima akan keindahan Al-Qur’an.

Orang yang berkeinginan besar untuk bahagia tentu akan melakukan pendekatan dengan sosok yang diyakini mampu mewujudkan bahagianya. Kalu sosok itu bukan Al-Qur’an, siapa lagi? Al-Qur’an, sebagaimana Surah Al-Waqiah adalah Karim, pemberi banyak keinginan, harapan, dan kebahagiaan, serta pemberi syafaat di hari kiamat kelak.

Terkadang sebuah harapan itu terlampau besar hingga tampak mustahil untuk meraihnya, ditambah usaha-usahanya yang belum sebanding. Untuk itu cintai dan akrabi Al-Qur’an. Yakni dengan membacanya dan menghayatinya, karena berinteraksi dengan Al-Qur’an merupakan tugas suci yang menyebabkan pembacanya sejajar dengan para malaikat dan dikabulkan doanya. Begitulah Al-Qur’an diciptakan Allah Swt untuk memberi cahaya dalam kegelapan, keindahan dalam keburukan. Untuk itu, tak ada lagi alasan untuk berpaling darinya, apalagi meninggalakannya.

Sumber: buku “Rahasia Nikmatnya Menghafal Al-Qur’an” karya D.M Makhyaruddin



Bukan sopir angkot saja yang setoran, penghafal Al-Qur’an pun harus menyetorkan hafalannya, kepada siapa? Kepada siapa saja. Al-Kiya Al-Harisi (w.504 H) ulama’ pakar tafsir Al-Qur’an, setiap kali hafal beberapa hadits, suka cepat-cepat pulang ke rumah. Dia belum merasa tenang apabila hafalannya belum diperdengarkan atau disetorka kepada istrinya. Menurutnya, setoran adalah metode terbaik menguatkan hafalan. Bahkan, sesuai pengalamannya, hafalan yang sering disetorkan tidaak akan lupa.

Secara umum, setoran adalah membacakan hasil hafalan ke hadapan mursyid. Setoran menjadi sangat penting dalam menghafal Al-Qur’an karena selain memengaruhi kelancaran dan kekuatan hafalan, juga akan mengoreksi kesalahan hafalan, dan kesalah bacaan. Bahkan, disetorkan kepada mursyid yang wara’ akan membawa berkah karena pertemuan dengannya.

Menurut riwayat Ibnu Abbas, Rasulullah SAW suka bertadarus dan menyetorkaan hafalan kepada Jibril setiap malam bulan ramadhan untuk mengevaluasisesuai jumlah ayat yang sudah turun. Kemudian pada Ramadhsn terakhir, beliau menyetorkan hafalan kepada Jibrilsebanyak dua kali khatam sebagai pertanda bahwa sebentar lagi penurunan ayat akan usai. Zaid ibn Tsabit yang dikenal sebagai pencatat wahyu mengatakan,urutan surah dan ayat Al-Qur’an yang sampai kepada umat adalah sesuai penyetoran terakhir itu.

Bagi penghafal Al-Qur’an dia mungkin telah bisa mengetahui dan merasakan perbedaan yangg besar antara hafalan yang sudah disetorkan dan hafalan yang belum disetorkan. Setoran menjadi standar ukuran atau evaluasi hafalan dan bacaan. Apabila tidak disetorkan, tidak akan diketahui seberapa banyak hafalan yang benar-benar sudah hafal, karena suka tercampur dengan yang belum benar-benar hafal. Dengan setoran, akan diketahui hafalan mana yang sudah lancar dan mana yang belum lancar. Apabila terdapat bacaan yang keliru sewaktu menghafal, akan terkoreksi.


Membaca Al-Qur’an dalam surat sama dengan menyetorkan hafalan keoada Allah Swt. Dia sendiri yang akan mendengarkan dan mengoreksi hafal dan dan bacaan Anda. Jika didengarkan guru saja meras khusyuk bahkan deg-degan, kenapa kekhusyukan dan rasa deg-degan itu tidak hadir saat didengarkan oleh Allah Swt. Hal yang paling aneh dan mengherankan adalah banyak kiyai, ustadz, sesepuh, guru Al-Qur’an dan bahkan masyarakat umum yang menolak bacaan mereka didengarkan orang hafidz dan ahli membaca Al-Qur’an, karena takut atau tidak mau dikoreksi, sementara mereka tidak takut dikoreksi Allah Swt, bikan sekadar bacaan dan hafalan mereka, tetapi juga hati mereka. 
Sumber: buku “Rahasia Nikmatnya Menghafal Al-Qur’an” karya D.M Makhyaruddin
 

ta'aruf yuk!